Beranda / Telaah / Catatan Al azhar: Sastra dan Kebudayaan

Catatan Al azhar: Sastra dan Kebudayaan

Lukisan Junaidi Syam
  1. Tempat sastra dalam kebudayaan

Di manakah tempat sastra dalam kebudayaan? Setiap sastra adalah hasil karya manusia. Di dalam proses produksinya, sastra dijelmakan melalui aturan-aturan (konvensi) kebudayaan tertentu, yang sekaligus menjadi pintu masuk bagi khalayak untuk memahaminya. Oleh karena itu, sastra adalah artefak kebudayaan; wujudnya menggunakan unsur-unsur formal kebudayaan (bahasa dan kesenian, misalnya), dan dalam bingkai anggapan fiksionalitasnya yang dikenakan padanya, kenyataan-kenyataan kebudayaan sentiasa terjejaki. Itulah sebabnya orang memerlukan pengetahuan relatif mengenai konvensi budaya yang melatari sebuah sastra sebagai bekal awal untuk menanggapi (memetik makna) karya sastra itu.

Pernyataan terakhir ini bukanlah bermaksud menafikan kemungkinan universalitas satu atau lebih karya sastra, dan menganggap setiap karya sastra ‘terkunci’ di dalam partikularitasnya belaka. Universalitas suatu karya sastra pada akhirnya adalah persoalan khalayak penyimak karya itu sendiri: harapan-harapan apa yang dibawanya dalam dialog dengan karya itu? Untuk ini, sebagai contoh, saya ingin menyebut Will Derks dan hasil dialognya dengan dua versi cerita lisan Panglimo Awang yang didendangkan oleh Pak Ganti dan Pak Taslim dalam bahasa Melayu logat Rokan. Berdasarkan pembacaan mendalamnya atas transkripsi rekaman dan terjemahan (bahasa Inggris) kedua versi cerita itu, Derks berpendapat bahwa cerita Panglimo Awang yang sangat ‘lokal’ itu terbukti bisa dibaca sebagaimana ‘orang Barat’ membaca karya-karya Thomas Mann dan lain-lain. Pada peringkat tertentu, pembacaan tersebut menghasilkan makna-makna universal yang sama dengan karya-karya kanonik dalam sastra dunia. (Lihat disertasinya: The Feast of storytelling: on Malay oral tradition, 1994). Sebelum itu, Maier dalam bukunya In the center of authority: the Malay Hikayat Merong Mahawangsa (1988) telah pula ‘mengejar’ dan menyentuh universalitas hikayat Melayu (Kedah) Merong Mahawangsa (yang diperkirakan ditulis pada pertengahan abad ke-19) sebagai sebuah kisahan yang menganjungkan ambiguitas; sebuah gejala yang dalam pensejarahan sastra dunia ditempatkan sebagai ciri sastra mutakhir. Demikian pula Vladimir Braginsky (1979) dan G.L. Koster (1993/2011), yang dalam penjelajahan mereka atas teks-teks Melayu dari tradisi naskah (oral-aural manuscripts) sampai akhir abad ke-19, telah menemukan keindahan universal sastra Melayu tersebut di balik tampilan partikularnya.

 

  1. Sastra, bahasa, dan realitas

Di samping tempat yang tersurat (dalam takrif, wujud, dan unsur-unsur kebudayaan), sastra juga bermukim secara tersirat dalam konsep menyeluruh kebudayaan. Ini karena sastra menggunakan unsur bahasa dan kesenian sebagai syarat dan perangkat mutlak proses produksinya. Pada kedalaman pengertian fungsional bahasa sebagai ‘alat komunikasi’, bermukim inti pengertiannya sebagai sistem tanda keberadaan sesuatu di dunia ini. Sesuatu dapat dipikirkan ada bila ia ‘bertanda’, artinya: ada dalam bahasa.

Dengan demikian, lebih dari perannya sebagai alat komunikasi, bahasa secara filosofis adalah penanda kenyataan-kenyataan. Atau: kita tak dapat mengatakan ‘kenyataan’ dan menjelajahi pemahaman (praktis-fungsional, maupun konseptual-filosofis) mengenai suatu ‘kenyataan’, bila ia tak bertanda (nama, sebutan, dsb.); tak ada dalam bahasa, artinya. Itulah sebabnya, sejumlah pemikir seperti Jonathan Culler (1997) mengatakan bahwa dunia ini (kenyataan-kenyataan) berada ‘dalam penjara bahasa’: pengertian, pemahaman, penjelajahan, dan perburuan makna, serta anggapan-anggapan kita mengenai kenyataan dalam kehidupan ini niscaya akan terkurung jua dalam jeruji tanda-tanda (bahasa).

Bagaimanapun, pernyataan ‘murung’ bahasa sebagai determinan ruang (jeruji yang mengurung) kenyataan-kenyataan dan maknanya itu menggapai dimensi ‘riang-gembira’-nya melalui sastra. Meskipun terbatas, tanda-tanda (sesuatu yang ‘dibahasakan’) di dunia fana ini sesungguhnya tak terkira jumlahnya, sehingga betapa tak terkiranya pula kenyataan-kenyataan yang ada. Sastra melihatnya sebagai saujana yang luas dan samudera yang dalam untuk dijelajahi dalam kegirangan seorang pemburu makna. Di sinilah tempat tersirat yang utama bagi sastra dalam kebudayaan. Bersama sifat indah (sebagai seni) yang disyaratkan dalam kewujudannya, sastra bukan hanya tampil sebagai rekaman dan penegasan makna-makna tertentu dalam saujana dan samudera luas tanda-tanda (bahasa), tetapi juga menguak dan menyingkapkan yang tersembunyi, menyegarkan tanda yang diusangkan oleh kelaziman-kelaziman: menciptakan makna baru.

Sastrawan dengan demikian bukanlah profesi perekam kebudayaan belaka, bukan hanya pemburu tanda (bahasa) semata, tapi juga pencipta makna yang digubal/ diolahnya dari pengarungan tanda-tanda yang dilakoninya itu. Bersama karyanya, seorang sastrawan merupakan aktor yang membentuk dan menentukan keberlanjutan perjalanan suatu kebudayaan melalui ‘permainan’ tanda dan makna yang terdapat dalam bahasa kebudayaan tersebut.

Lihat Juga

gurindam dua belas

Catatan Al azhar: Gurindam Dua Belas & Persembahannya

A. Mukaddimah: Raja Ali Haji & Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji lahir tahun 1809 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *