Beranda / Kabar / Mentalam Ketan Durian: Dari Dapur Melayu ke Rekor Dunia

Mentalam Ketan Durian: Dari Dapur Melayu ke Rekor Dunia

lamriau.id-Pekanbaru, Di tanah Melayu, Riau, kue bukan sekadar pengalas perut. Setiap hidangan adalah cerita, setiap rasa adalah warisan, dan setiap suapan menyimpan jejak sejarah sebuah negeri. Begitulah kisah Kue Mentalam Ketan Durian, makanan ringan tradisional yang kini bukan hanya dikenal sebagai oleh-oleh khas Pekanbaru, tetapi juga telah mengharumkan nama Riau di pentas dunia.

Pagi itu, Ahad (21/6/2026), Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, berubah menjadi hamparan panjang aroma santan, ketan, dan durian. Sejauh satu kilometer, kue mentalam ketan durian tersusun rapi di kawasan Car Free Day (CFD).

Ribuan warga berduyun-duyun datang. Ada yang sekadar ingin mencicipi, ada pula yang sengaja membawa anak dan cucu agar dapat menyaksikan sejarah tercipta di negeri sendiri.

Di balik kemeriahan festival dan pecahnya Rekor MURI sebagai Festival Kue Mentalam Ketan Durian Terpanjang di Dunia, tersimpan makna budaya yang lebih dalam. Kue mentalam ketan durian sesungguhnya adalah simbol pertemuan antara alam dan tradisi Melayu.

Lapisan ketan yang gurih menggambarkan sifat masyarakat Melayu yang kukuh dan bersatu. Dalam budaya Melayu, ketan kerap hadir dalam berbagai upacara adat, mulai dari kenduri, tepuk tepung tawar hingga perhelatan keluarga. Teksturnya yang lengket menjadi perlambang eratnya silaturahmi dan persaudaraan.

Sementara lapisan talam durian di atasnya mencerminkan kekayaan alam Riau. Durian, yang sejak lama tumbuh subur di berbagai daerah di Bumi Lancang Kuning, bukan hanya buah musiman. Ia telah menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Musim durian di kampung-kampung Melayu sering menjadi momen berkumpul keluarga, tempat cerita dan petuah orang tua diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama talam sendiri berasal dari wadah tradisional berbentuk ceper yang dahulu lazim digunakan masyarakat untuk mengukus dan menyajikan kue. Seiring waktu, nama wadah itu melekat menjadi nama kudapan yang hingga kini tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern.

Dalam tradisi masyarakat Melayu, talam merupakan kata benda yang merujuk pada wadah atau dulang ceper yang digunakan untuk mengukus maupun menyajikan makanan. Dari kata tersebut lahir istilah mentalam, yakni kata kerja yang bermakna membuat atau memasak kue menggunakan talam. Seiring perjalanan waktu, nama wadah itu kemudian melekat menjadi nama salah satu kudapan tradisional yang hingga kini dikenal luas sebagai kue talam.

Bagi masyarakat Melayu, menjaga kuliner tradisional sama artinya dengan menjaga marwah budaya. Sebab, hilangnya satu jenis makanan tradisional, berarti hilang pula sepotong ingatan kolektif sebuah bangsa.

Karena itulah, Festival Kue Talam Ketan Durian bukan sekadar upaya memecahkan rekor. Lebih dari itu, ia menjadi panggung besar untuk memperkenalkan kembali khazanah kuliner Melayu kepada generasi muda.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengaku tak menyangka antusiasme masyarakat begitu besar. Ratusan ribu orang memadati lokasi festival. Kehadiran mereka seakan menjadi penegas bahwa masyarakat masih memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kuliner tradisional.

Ketika Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menetapkan Festival Kue Talam Ketan Durian sebagai yang terpanjang di dunia, sesungguhnya yang mendapat pengakuan bukan hanya panjangnya sajian.

Dunia sedang menyaksikan bagaimana sebuah tradisi kuliner Melayu mampu bertahan, berkembang, dan tetap dicintai masyarakatnya.

Di tengah derasnya arus globalisasi, talam ketan durian telah membuktikan bahwa warisan leluhur tidak hanya layak dikenang, tetapi juga dirayakan.

Dari dapur-dapur sederhana masyarakat Melayu, kue ini kini menjelma menjadi duta budaya yang membawa harum nama Riau hingga ke panggung dunia. (*)

Bagikan

Lihat Juga

Ambil Momen Tahun Baru Islam, Siaran LAMR-RRI Mengudara

lamriau.id-Pekanbaru, Kerja sama antara Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau dan Radio Republik Indonesia ...