Malalak:
Tradisi dalam Sunyi
Oleh: Syaiful Anuar
Pemaknaan kata malalak tidak dapat dipisahkan dari lokusnya, yaitu alam —seperti hutan atau perladangan. Alam berfungsi sebagai ruang tanpa penghakiman bagi ekspresi kerapuhan manusia. Di ruang-ruang sunyi inilah, individu bebas meledakkan emosi dirinya melalui suara tanpa harus berbenturan dengan tuntutan kesunyian dan norma sosial yang ketat dalam pemukiman perkampungan —berbenturan dengan prinsip harga diri (muruah) keluarga, kaum, puak persukuan, dan bahkan negeri. Maka dapatlah dikatakan bahwa malalak sebagai tangisan estetis yang memperalat sunyi sebagai perisai untuk melindungi harga diri, sekaligus sebagai jembatan gaib untuk menghubungkan hati yang terpisah.
Cover dan tataletak oleh Rafqi Ismail
Silakan baca selengkapnya di bawah ini:
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau