Beranda / Telaah / Ungkapan Tradisional Melayu Riau (karya Tenas Effendy)

Ungkapan Tradisional Melayu Riau (karya Tenas Effendy)

 

Bismillahi r-Rahmani r-Rahim. Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Karya Tenas Effendy mengenai ungkapan Melayu ini diterbitkan pertama kali oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia pada tahun 1989, dengan judul Ungkapan Tradisional Melayu Riau. Buku itu merupakan karya Tenas Effendy yang paling awal terbit di Malaysia, dan dapat dianggap sebagai semacam pembuka jalan bagi deretan publikasi karya-karya beliau di negeri jiran itu, yang kemudian mengantarkan beliau ke peringkat kewibawaan tertentu di lingkungan luas pengkaji dan budayawan Melayu di Asia Tenggara. Oleh karena diterbitkan di ‘luar negeri’, buku ini agak kurang dikenal di Riau, apalagi di Indonesia.

Tenas Effendy memulai riwayat kepengarangannya sejak remaja, dalam bentuk penulisan puisi-puisi. Kemudian beliau menulis naskah-naskah drama untuk dipentaskan, dan hanya satu atau dua judul saja yang dipublikasikan dalam bentuk buku; itupun lama setelah naskah-naskah itu selesai ditulis. Beliau juga menulis cerita-cerita yang pelantar kisahannya adalah mitos dan legenda rakyat Melayu di Riau, serta sejarah setempat. Karya-karya fiksi dan sejarah itu sebagian besar dipublikasikan dalam bentuk buku oleh Badan Pembina Kesenian Daerah (BPKD) Riau pada tahun 1970-an.

BPKD adalah sebuah badan yang didirikan dan disokong penuh oleh Pemerintah Daerah Provinsi Riau, di masa Gubernur Riau dijabat oleh H. Arifin Achmad. Tenas Effendy merupakan salah seorang tokoh kunci yang menggerakkan aktivitas kesenian dan kecendekiawanan di dalam badan itu. Setelah BPKD Riau berhenti beraktivitas pada akhir 1970-an, dunia penerbitan fiksi di Riau sempat malap selama hampir satu dasawarsa. Namun, Tenas Effendy tetap ‘lasak’. Tetapi, nampaknya kepengarangan beliau mengalami pergeseren, dari penciptaan fiksi ke penelisikan dan pendokumentasian ekspresi-ekspresi kebahasaan yang khas; sarang khasanah nilai-nilai warisan budaya yang membentuk ke-Melayu-an dan jati diri Melayu itu.

Kandungan buku ini adalah salah satu hasil dari kelasakan mendokumentasi tersebut. Berdasarkan waktu terbitnya yang persis tiga puluh tahun yang lalu, buku ini dapat dianggap sebagai salah satu publikasi yang menandai pergeseran kepengarangan Tenas Effendy, dari fiksi ke keasyikan menghidupkan (kembali) nilai-nilai Melayu yang ditimbun zaman. Untuk itu secara fisik beliau berkunjung ke pedalaman Riau, dan pulang dengan empati yang tinggi pada kehidupan kampung-kampung yang masih tersisa, beserta gumpalan keprihatinan terhadap ancaman-ancaman yang dihadapi kampung-kampung itu.

Kampung bagi Tenas Effendy nampaknya bukanlah sekedar ‘tempat (place)’ bermukim orang-orang, tetapi ‘ruang (space)’ yang menghidupkan nilai-nilai luhur yang berpaksi pada relasi-relasi vertikal (makhluk dan Khalik) dan horisontal (sesama makhluk). Kisahan-kisahan bersajak tentang benda-benda dan tradisi, beserta ungkapan-ungkapan mengenai sifat orang dan perumpamaan terhadapnya, yang terdapat dalam buku ini menyiratkan sumber intinya, yaitu nilai yang tumbuh dari kesadaran relasional tersebut. Arus kepengarangan yang sama, terang-benderang kita rasakan dalam iring-iringan karya-karya Tenas Effendy yang diterbitkan kemudian.

 

*

Salah satu bab dalam buku ini (yaitu tentang “rumah”) menggoda sebuah penerbit lain di Malaysia (Areca Books) untuk menerbitkannya pada tahun 2014, berjudul Rumah: an ode to the Malay house (Rumah: sebuah ode pada rumah Melayu). Buku itu dibuat dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu, dilengkapi dengan ilustrasi yang indah berupa lukisan cat air oleh Ahmad Harun. Komikus terkemuka Malaysia, Datuk Muhammad Nor Khalid (yang lebih dikenal dengan nama Lat) memberikan kata pengantar yang disertai ilustrasi khas Lat. Penerbitan yang indah itu mencuatkan makna penting lain dari karya Tenas Effendy, yaitu kesuburan ‘ilhami’.

 

*

Membentangkan pengetahuan yang diperoleh dari kecendekiawanan kepada khalayak Riau (dan Indonesia), bersama gumpalan nilai dan kesuburan makna yang dikandungnya; itulah matlamat yang melatari penerbitan buku ini.

 

Pekanbaru, Juni 2019

LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU

 

Sempena Milad ke-49, Lembaga Adat Melayu Riau menerbitkan dua buku, masing-masing berjudul Ungkapan Tradisional Melayu Riau (karya Tenas Effendy) dan Yang Berdiri dalam Budi: unsur politik pada Tunjuk Ajar Melayu (karya Taufik Ikram Jamil). Kedua buku tersebut, insya Allah dalam waktu dekat ini akan diluncurkan dalam suatu majelis diskusi. Mendahului itu, sebagai pengenalan awal, kami muatkan pengantar LAMR atas buku tersebut.

Lihat Juga

Catatan Al azhar: Sejarah atawa Dongeng?

Syahdan pada tahun 1984, seorang budayawan Riau, Ediruslan Pe Amanriza (17 Agustus 1947 – 3 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *