lamriau.id-Pekanbaru, Wakil Bupati Siak Syamsurizal Budi menyebut penetapan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Tahun 2026 menjadi catatan sejarah baru bagi Kabupaten Siak dan Provinsi Riau.
Hal itu disampaikan Syamsurizal saat menghadiri penyambutan IKON Syair Perang Siak di Balairung Tenas Effendy, Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau.
“Ini merupakan catatan sejarah baru bagi Kabupaten Siak dan Provinsi Riau secara luas. Keberhasilan penetapan naskah Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah sebuah anugerah yang luar biasa,” kata Syamsurizal.
Menurutnya, Syair Perang Siak yang ditulis oleh bangsawan Melayu dari Kerajaan Siak pada masa lalu bukan sekadar lembaran kertas tua. Naskah tersebut menjadi catatan mengenai perjuangan masyarakat Melayu menghadapi kolonialisme sekaligus menggambarkan keteguhan sikap dan kedalaman intelektual masyarakat pada masanya.
“Pengakuan ini adalah bentuk validasi negara terhadap kekayaan peradaban Melayu yang diwarisi,” ujarnya.
Syamsurizal juga mengungkapkan kedekatan sejarah dirinya dengan salah satu wilayah yang berkaitan dengan peperangan dalam sejarah Siak. Ia mengatakan dirinya lahir di Kecamatan Sungai Apit, kawasan yang menurutnya memiliki jejak sejarah peperangan antara Siak dan Belanda.
Syamsurizal menyebutkan peperangan tersebut berlangsung sekitar 260 tahun lalu, tepatnya pada April 1761. Jejak fisik dari peristiwa tersebut, kata dia, kini masih ditemukan dalam bentuk tinggalan arkeologi bawah air yang telah diteliti Dinas Kebudayaan Provinsi Riau pada 2024.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Siak, kami menyampaikan rasa haru dan bangga yang membuncah,” katanya.
Syamsurizal juga mengapresiasi LAMR Provinsi Riau yang menginisiasi penyambutan sertifikat IKON tersebut. Menurutnya, penyambutan di Balai Adat LAMR memberikan makna tersendiri karena berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh penghormatan terhadap warisan Melayu.
Politisi Demokrat itu menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya para tenaga ahli dan pakar independen yang mendukung proses pengusulan Syair Perang Siak hingga mendapatkan pengakuan nasional.
Namun, menurut Syamsurizal, penetapan Syair Perang Siak sebagai IKON bukan akhir dari perjalanan. “Ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah pemantik semangat baru,” ujarnya.
Ia berharap pengakuan tersebut mendorong pelestarian budaya dan penguatan literasi di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
Syamsurizal mengajak generasi muda menjadikan Syair Perang Siak sebagai bagian dari pengenalan identitas dan sejarah daerah.
“Mari kita perkuat literasi kita, mari kita cintai sejarah kita. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan ingatan kolektifnya,” katanya.
Syamsurizal juga mengaitkan penetapan Syair Perang Siak dengan perjuangan Pemerintah Kabupaten Siak dalam mengusulkan Sultan Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional.
“Dengan IKON ini, Insya Allah Pemerintah Siak akan meneruskan perjuangan untuk Sultan Buwang Asmara,” ujarnya.
Ia mengatakan pengakuan terhadap Syair Perang Siak diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan kembali upaya pengusulan tersebut. “Mudah-mudahan dengan diakuinya ini, perjuangan sebelumnya dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat kita teruskan. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa menjadikan Sultan Buwang Asmara menjadi Pahlawan Nasional,” kata Syamsurizal. (*)
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau