lamriau.id-Pekanbaru, Sekitar 150 siswa SMA di Pekanbaru menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang membawa mereka menengok jauh ke belakang. Di hadapan mereka, bukan sekadar sertifikat penghargaan yang diperkenalkan, melainkan sebuah naskah tua yang menyimpan jejak sejarah Melayu hingga sekitar dua abad.
Naskah itu adalah Syair Perang Siak, yang kini ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Tahun 2026.
Ketua Umum DPH Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, mengatakan kehadiran para pelajar dalam penyambutan IKON Syair Perang Siak sengaja menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.

Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui bahwa Riau tidak hanya memiliki kekayaan alam dan sejarah kerajaan, tetapi juga mempunyai tradisi ilmu, tulisan dan manuskrip yang menjadi bukti perjalanan intelektual masyarakat Melayu.
“Jangan sampai kita ketinggalan untuk mengabarkan kepada seluruh masyarakat Riau bahwa kita memiliki warisan intelektual yang sangat berharga,” kata Datuk Seri Taufik dalam sambutannya di Balairung Tenas Effendy, Balai Adat LAMR Provinsi Riau.
Datuk Seri Taufik mengatakan, Syair Perang Siak merupakan naskah kuno pertama dari Riau yang mendapatkan pengakuan nasional sebagai Ingatan Kolektif Nasional.
Ia mengingat kembali pandangan salah seorang tim penilai, Doktor Muchlis, yang sebelumnya juga terlibat dalam proses penilaian usulan Pahlawan Nasional. Menurut Taufik, saat itu muncul kegelisahan tentang Riau yang dikenal sebagai negeri sahibul kitab, tetapi belum memiliki naskah kuno yang memperoleh pengakuan sebagai ikon nasional.
“Riau sejak dahulu dikenal sebagai daerah sahibul kitab, negeri yang memiliki tradisi ilmu, tulisan dan manuskrip. Tetapi kemudian muncul pertanyaan: mana buktinya?” ujarnya.

Hari ini, kata Datuk Seri Taufik, salah satu bukti itu hadir melalui Syair Perang Siak. Karena itu, LAMR memandang keberhasilan Kabupaten Siak memperoleh pengakuan tersebut bukan hanya untuk dirayakan masyarakat Siak. Kebanggaan itu, menurutnya, perlu dirasakan seluruh masyarakat Riau.
Datuk Seri Taufik mengibaratkan semangat tersebut dengan ungkapan Melayu, “hidup sekampung dukung-mendukung, hidup sebangsa rasa-merasa.”
“Jangan sampai karena sesuatu itu berada di satu kabupaten, kemudian daerah lain merasa tidak berkepentingan,” katanya.
Datuk Seri Taufik menyebutkan, meskipun proses pengusulan Syair Perang Siak dilakukan melalui Kabupaten Siak, LAMR sebagai lembaga adat tingkat provinsi ikut memberikan dukungan terhadap proses tersebut.
Kini, setelah pengakuan nasional itu diperoleh, tugas berikutnya adalah memastikan generasi muda mengenal warisan tersebut.
Sebab, kata Taufik, manuskrip bukan sekadar benda lama yang disimpan di perpustakaan. Di dalamnya terdapat sejarah, pemikiran, kebudayaan dan identitas sebuah masyarakat.

Datuk Seri kemudian mengajak para siswa yang hadir untuk melihat langsung replika dan materi Syair Perang Siak yang disiapkan dalam kegiatan tersebut. Para pelajar juga diberi kesempatan berfoto dan membaca salinan serta informasi mengenai naskah tersebut.
“Harapan kita anak-anak kita, khususnya para siswa yang hadir hari ini, dapat melihat bahwa warisan seperti ini bukan sekadar benda lama,” ujarnya.
Syair Perang Siak sendiri diperkirakan memiliki usia sekitar dua abad. Berdasarkan hipotesis filolog Donald J. Goudie, karya tersebut kemungkinan disusun sekitar tahun 1820, sekitar satu abad setelah Raja Kecil membuka Kesultanan Siak.
Salah satu manuskrip yang menjadi representasi nominasi IKON adalah W 273, berjudul Syair Raja Siak. Naskah tersebut terdiri dari 31 folio atau 62 halaman, menggunakan aksara Jawi dan tidak mencantumkan nama penyalin, tempat maupun tanggal penyalinan.
Tradisi teks Syair Perang Siak juga memiliki saksi manuskrip lain, yakni KL 153 dan KL 154 yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Dalam kajian kritisnya, Goudie menggunakan ketiga manuskrip tersebut sebagai saksi utama.
Bagi Datuk Seri Taufik, keberadaan manuskrip-manuskrip itu menunjukkan bahwa sejarah Melayu Riau tidak hanya hidup melalui cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi, tetapi juga meninggalkan jejak tertulis yang dapat diteliti.
Lebih dari itu, Syair Perang Siak merekam sejarah Kesultanan Siak, Raja Kecil dan keturunannya, hubungan Siak dengan Johor dan Bugis serta dinamika kawasan Selat Melaka dan perjuangan menghadapi kekuatan VOC.
Yang membuatnya penting, sejarah tersebut hadir melalui sudut pandang masyarakat Melayu sendiri, dalam bentuk syair.
“Yang kita jaga bukan hanya naskahnya, tetapi juga pengetahuan, sejarah dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya,” kata Datuk Seri Taufik.
Karena itu, LAMR berharap pengakuan terhadap Syair Perang Siak menjadi pintu bagi karya-karya Melayu lainnya untuk mendapat perhatian. Salah satu yang ingin terus didorong adalah Syair Ikan Terubuk.
Bagi para siswa yang pagi itu duduk di Balairung Tenas Effendy, cerita tentang naskah berusia sekitar dua abad tersebut mungkin terasa jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Namun melalui naskah itulah mereka diperkenalkan pada satu hal sederhana, bahwa sebelum mereka lahir, orang Melayu telah membaca, menulis, berpikir dan mencatat sejarahnya sendiri.
Tugas generasi hari ini, kata Datuk Seri Taufik, bukan hanya merayakan pengakuan tersebut, tetapi memastikan warisan itu tetap dikenal, dipelajari dan diwariskan.
“Suara Melayu adalah bagian dari suara Indonesia. Warisan Riau bukan hanya milik Riau, tetapi merupakan bagian dari ingatan kebangsaan Indonesia,” ujarnya.
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau