Beranda / Kabar / LAMR: Ketahanan Energi Harus Berbasis Kebudayaan

LAMR: Ketahanan Energi Harus Berbasis Kebudayaan

Lamriau.id-Pekanbaru, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, menegaskan bahwa ketahanan energi tidak cukup hanya dibangun melalui kemajuan teknologi, efisiensi ekonomi, dan kebijakan negara, tetapi juga harus berlandaskan kebudayaan sebagai fondasi nilai dalam mengelola sumber daya alam.

Hal tersebut disampaikan Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil saat menyampaikan materi bertajuk “Ketahanan Energi Berbasis Kebudayaan: Sebuah Perspektif dari Riau” di hadapan 170 pejabat pembimbing dan perwira siswa Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Udara (Seskoau) Angkatan ke-65 di Balairung Tenas Effendy, Balai Adat LAMR Provinsi Riau, Senin (27/7).

Menurut Datuk Seri Taufik, perubahan global telah melahirkan berbagai konsep seperti transisi energi, energi hijau, energi baru terbarukan, dan ketahanan energi. Namun, di balik seluruh pembahasan tersebut, masih ada satu aspek mendasar yang sering diabaikan, yaitu kebudayaan.

“Pada akhirnya energi bukan hanya persoalan sumber daya, tetapi juga persoalan peradaban. Apakah sumber daya itu menjadi kesejahteraan atau justru melahirkan bencana sangat ditentukan oleh cara manusia memandang dan memperlakukannya. Di situlah kebudayaan memainkan peranan yang menentukan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketahanan energi bukan hanya kemampuan menyediakan energi secara berkelanjutan, tetapi juga kemampuan masyarakat membangun nilai, etika, dan perilaku yang menjamin sumber energi tetap lestari, dimanfaatkan secara adil, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam paparannya, Datuk Seri Taufik mengaitkan konsep tersebut dengan Asta Gatra sebagai dasar Ketahanan Nasional Indonesia. Menurutnya, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sosial budaya masyarakat.

“Kekayaan alam tanpa budaya yang kuat hanya akan menghasilkan eksploitasi. Sebaliknya, kebudayaan yang hidup akan melahirkan tanggung jawab, disiplin, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan kepentingan generasi mendatang,” kata Datuk Seri Taufik.

Beliau juga mengangkat konsep Tapak Lapan, sistem pengetahuan masyarakat Melayu Riau yang telah diwariskan turun-temurun. Menurutnya, konsep tersebut merupakan contoh nyata ketahanan energi berbasis budaya yang telah dipraktikkan jauh sebelum dunia mengenal istilah sustainability, resilience, maupun energy security.

Melalui Tapak Lapan, masyarakat Melayu diajarkan untuk tidak bergantung pada satu sumber penghidupan. Ketika laut tidak memungkinkan untuk melaut, mereka berladang, memanfaatkan hutan, sungai, kebun, serta mengembangkan berbagai keterampilan. Dari pengalaman itu lahir tiga prinsip utama, yaitu diversifikasi, adaptasi, dan keberlanjutan.

“Dalam ungkapan adat disebutkan, makan tidak menghabiskan, minum tidak mengeringkan. Nilai inilah yang menjadi inti pengelolaan sumber daya secara arif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Datuk Seri Taufik menegaskan, LAMR memiliki peran strategis dalam menjaga sistem nilai yang menjadi landasan pengelolaan sumber daya alam. Meski bukan lembaga teknis di bidang energi, LAMR terus memperkuat pendidikan budaya, pelestarian adat, serta pewarisan nilai-nilai Melayu kepada generasi muda, termasuk melalui keberhasilan memasukkan mata pelajaran Budaya Melayu Terintegrasi (BMT) ke dalam Dapodik Nasional.

Datuk Seri Taufik menambahkan, ketahanan energi tidak dapat diukur semata-mata dari besarnya cadangan minyak, gas, atau kapasitas pembangkit listrik. Tolok ukur sesungguhnya adalah kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam.

“Ketahanan energi berbasis kebudayaan bukan sekadar slogan, melainkan paradigma pembangunan yang memadukan kekuatan sumber daya alam dengan kekuatan nilai-nilai budaya. Nilai adat melahirkan karakter, karakter melahirkan tanggung jawab, dan tanggung jawab melahirkan pengelolaan sumber daya yang arif. Dari sanalah tumbuh ketahanan energi sebagai bagian dari ketahanan nasional Indonesia,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Datuk Seri Taufik mengajak TNI Angkatan Udara bersama LAMR untuk membangun dialog dan merumuskan konsep ketahanan energi berbasis kebudayaan sebagai kontribusi Riau bagi pembangunan nasional.

Bagikan

Lihat Juga

Malam Ini: Moh, Ikut Majelis Zikir di Balai Adat LAMR

lamriau.id-Pekanbaru, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau kembali menggelar Majelis Zikir, Syarahan Agama, dan ...