lamriau.id-Pekanbaru, Peluang Zapin Riau menembus panggung warisan budaya takbenda dunia semakin terbuka. Indonesia bersama Malaysia, Brunei, dan Singapura akan mengajukan zapin sebagai seni pertunjukan tradisional Melayu untuk masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.
Kabar tersebut dilansir The Star, Jumat (25/9/2026), mengutip Badan Warisan Nasional Singapura atau National Heritage Board (NHB). Keempat negara menargetkan berkas nominasi bersama tersebut disampaikan kepada UNESCO pada Maret 2027.
Nominasi multinasional ini menjadi peluang penting bagi ragam zapin yang hidup dan berkembang di Riau. Sejumlah varian zapin Riau bahkan telah lebih dahulu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, di antaranya Zapin Api dan Zapin Meskom.
Data Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO juga mencatat kedua karya budaya tersebut sebagai seni pertunjukan asal Riau.
Selain itu, Zapin Siak Sri Indrapura telah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia. Penetapan tersebut tercatat dalam dokumentasi Pemerintah Provinsi Riau sebagai salah satu karya budaya Riau yang mendapat sertifikat WBTb Indonesia.
Sebelumnya, pada 2025, Dinas Kebudayaan Riau juga telah melakukan konsolidasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk mempersiapkan zapin Riau menuju pengakuan Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.
Dalam konsolidasi tersebut, Kementerian Kebudayaan mendorong agar Riau menjadi pelopor komunikasi zapin yang berkembang di negara-negara ASEAN sebelum diajukan melalui skema joint nomination atau nominasi multinasional. Salah satu zapin yang disampaikan dalam persiapan itu adalah Zapin Siak Sri Indrapura, selain Zapin Pecah Dua Belas dari Pelalawan.
Menurut laporan The Star, zapin merupakan seni tari bertempo rancak yang berkaitan dengan budaya, nilai dan adab. Seni pertunjukan tersebut diyakini telah masuk ke Kepulauan Melayu melalui komunitas Muslim Arab pada sekitar abad ke-13 hingga ke-15.
Di kawasan Melayu, zapin kemudian berkembang menjadi beragam bentuk dan gaya sesuai lingkungan masyarakat yang melestarikannya. Di Riau, misalnya, berkembang berbagai varian zapin dengan karakter gerak, musik dan fungsi sosial yang berbeda.
Media Center Riau mencatat sedikitnya sejumlah varian zapin yang telah menjadi WBTb Indonesia, termasuk Zapin Api, Zapin Meskom, Zapin Siak Sri Indrapura, Zapin Pecah Dua Belas dan Zapin Maharani.
Kepala Eksekutif NHB Chang Hwee Nee mengatakan nominasi bersama tersebut menunjukkan pentingnya zapin bagi komunitas di Singapura dan kawasan regional.
Menurutnya, pengajuan tersebut diharapkan dapat mendorong generasi baru untuk terus menghidupkan zapin sebagai warisan budaya yang hidup sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisinya kepada masyarakat luas.
NHB menyebut komunitas pelaku zapin di keempat negara masih aktif mempertunjukkan dan mewariskan seni tersebut dari generasi ke generasi.
“Nominasi multinasional ini merupakan kesempatan bagi keempat negara untuk memperkuat hubungan budaya dan meningkatkan kerja sama internasional dalam mempromosikan zapin dan para pelakunya,” demikian pernyataan NHB sebagaimana dikutip The Star.
Pengajuan bersama ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian zapin melalui keterlibatan komunitas, pendidikan, dokumentasi dan kegiatan pertunjukan.
Bagi Riau, yang memiliki sejumlah varian zapin yang telah berstatus WBTb Indonesia, proses nominasi multinasional tersebut membuka ruang lebih besar untuk membawa kekayaan zapin Melayu Riau ke panggung UNESCO.
Namun, pengajuan Maret 2027 tersebut belum berarti zapin langsung ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda dunia. UNESCO masih akan melakukan proses evaluasi terhadap nominasi, termasuk melihat bagaimana negara-negara pengusul menjaga, mengembangkan, mendokumentasikan dan mewariskan praktik budaya tersebut kepada generasi berikutnya. (*)
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau