Oleh : Alvi Puspita
Ketika masih SD, salah satu kesibukan kami selepas bermain adalah saling bercerita tentang hantu. Tidak ada yang benar-benar tahu dari mana cerita itu bermula. Kami mendengarnya dari ibu, nenek, kakek, atau kawan yang lebih dulu mendengar dari orang lain. Lalu cerita itu berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain. Kadang-kadang ceritanya berubah, tetapi ketakutannya tetap sama.
Salah satu hantu yang paling saya ingat adalah Kalelek. Ia bukan hantu yang mengejar orang sampai ke rumah atau menampakkan diri dengan wajah mengerikan. Kalelek, kata ibu dan nenek saya, suka menjahili orang dengan cara melempar. Entah apa yang dilemparkannya. Yang jelas, jika seseorang melewati tempat yang diyakini sebagai wilayah Kalelek, tiba-tiba ada sesuatu yang melayang dari kegelapan. Cerita sederhana itu cukup untuk membuat kami percaya bahwa tempat-tempat tertentu tidak boleh dilewati sembarangan.
Tataletak oleh Rafqi Ismail
Silahkan baca selengkapnya dibawah ini:
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau