Beranda / Syahdan / MEMBAWA PANTUN INDONESIA KE MELAKA, MENJAGA AKAR KEHIDUPANNYA

MEMBAWA PANTUN INDONESIA KE MELAKA, MENJAGA AKAR KEHIDUPANNYA

MEMBAWA PANTUN INDONESIA KE MELAKA, MENJAGA AKAR KEHIDUPANNYA

Refleksi atas undangan mewakili Indonesia dalam forum warisan budaya lintas negara

Oleh Elmustian

Ada undangan yang nilainya lebih besar daripada selembar surat. Bukan karena tempat yang hendak dituju atau nama yang tercantum di dalamnya, melainkan karena amanah yang dibawanya. Ketika Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mengundang saya untuk menjadi pemakalah yang mewakili Indonesia dalam sebuah pertemuan budaya di Melaka, yang terbayang pertama-tama bukanlah panggung internasional. Yang terbayang justru kampung-kampung Melayu Riau: sungai, sawah-ladang, perahu, pohon enau, serta suara orang-orang yang sejak lama merawat kehidupan dengan bahasa dan adatnya.

Undangan melalui Direktorat Kerja Sama Kebudayaan, bertarikh 26 Agustus 2026 yang diawali dengan kepercayaan yang diamanahkan oleh Mukhlis Paeni dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia, meminta kesediaan saya sebagai paper presenter mengenai Warisan Budaya Takbenda Pantun dari Indonesia. Forum itu bernama Cultural Exchange Festival: Celebrating Cross-Cultural Heritage, dijadwalkan pada 30 Oktober – 1 November 2026 di Museum Cheng Hoon Teng Temple, Melaka, Malaysia. Temanya, “Fostering Exchange, Mutual Understanding and Celebrating Intangible Cultural Heritage”, menempatkan pertukaran pengetahuan dan saling pengertian sebagai dasar kerja sama kebudayaan. Penyelenggara yang disebut dalam surat ialah otoritas warisan budaya Malaysia bersama Crihap, pusat pelatihan warisan budaya takbenda di kawasan Asia-Pasifik di bawah naungan Unesco.

Cover oleh Rafqi Ismail
Silahkan baca selengkapnya di bawah ini:

Bagikan

Lihat Juga

Munajat Tepian Sungai Rokan

Munajat Tepian Sungai Rokan Oleh: Dini Sore itu, udara di Desa Sintong terasa berat oleh ...