Beranda / Syahdan / Kepemimpinan Dalam Budaya Melayu

Kepemimpinan Dalam Budaya Melayu

Ucap-sambut Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau. (foto: lamriau.id)

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

Yth. Wakil Gubernur Riau Bapak Brigjen (Purn.) H. Edy Afrizal Natar Nasution;
Ykh. Ketua DPRD Provinsi Riau, Datin Septina Primawati;
Ykh. Para Anggota Forkopimda Provinsi Riau;
Ykh. Para Sultan, Raja, Pimpinan Kekerabatan Diraja, Ketua MUI Provinsi Riau
Ykh. Bupati Walikota Se Provinsi Riau;
Ykh. Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Seri H. Al Azhar;
Ykh. Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Seri Syahril Abu Bakar;
Ykh. Ketua Umum MKA/DPH LAMR Kabupaten/Kota se-Riau;
Ykh. Pimpinan Himpunan Kekerabatan, dan Paguyuban;
Ykh. Datuk-Datuk, Datin-Datin, Encik-Encik, Cik dan jemputan majelis yang telah hadir pada kesempatan ini.

Segala puji dan puja ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya siang dan malam terus-menerus tanpa perhitungan kepada setiap hamba-Nya. Dan tentunya tak ada ungkapan syukur yang dapat terucap dari lisan ini kecuali ucapan Alhamdulillahi Rabbi l-‘alamin, karena berkat rahmat dan karunia-Nya jualah kita masih dalam keadaan sehat wal’afiat, dan dapat bertemu serta berkumpul di ruangan ini sempena menghadiri acara “Penabalan Datuk Seri Setia Amanah dan Datuk Seri Timbalan Setia Amanah” Masyarakat Adat Melayu Riau.

Tak lupa juga shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada Nabi Besar Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai pemimpin mulia umat Islam yang berbudi luhur dan memiliki nasab yang paling mulia. Allahumma shalli ‘ala Saiyidina Muhammad wa ’ala aali Saiyidina Muhammad. Semoga kita mendapatkan syafaat Beliau di Hari Akhir nanti. Aamiin Yaa Robb al-’alamiin.

Datuk/Datin, Encik/Tuan dan Puan jemputan majelis yang berbahagia.

Kepemimpinan dalam kaca mata Islam merupakan salah satu hal yang mutlak dalam kehidupan ini, karena pada dasarnya setiap manusia yang terlahir di dunia ini ketika ia telah mencapai usia Baligh, maka ia telah diamanahi Allah sebagai pemimpin, minimal pemimpin untuk dirinya sendiri. Karena pada saat itu ia telah terbebani hukum agama secara penuh. Sehingga melihat hal tersebut hakekat semua manusia yang ada di muka bumi ini adalah seorang pemimpin.

Hakekat kepemimpinan dalam Islam sendiri merupakan suatu bentuk Tanggung Jawab dan bukanlah suatu keistimewaan. Maka ketika berada di dunia ini ia ditunjuk untuk memimpin suatu kelompok tertentu, maka wajib baginya untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinannya tersebut di hadapan manusia dan juga Allah. Rasulullah Shalllallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana kita ketahui, pandangan orang Melayu bahwa adat bersanding syarak dan syarak bersanding kitabullah. Kita sebagai umat Islam yang memiliki landasan yang kuat tentang kepemimpinan harus terus berupaya dan berusaha untuk dapat menjelma menjadi sosok pemimpin yang Qurani. Artinya bahwa ketika kita menjadi seorang pemimpin, maka kita akan mengedepankan nilai-nilai agung Al-Quran dalam setiap tindakan, sikap dan kebijakan yang kita ambil ketika menjadi pemimpin.

Tentunya seorang pemimpin yang Qurani bukan diartikan sebagai seorang pemimpin yang harus terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam kepemimpinannya, namun lebih dari itu, seorang pemimpin yang Qurani akan selalu mempertimbangkan segala sikap, tindak-tanduk, kebijakan dan pemikirannya dilandaskan Al-Quran. Dan sifat wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang Qurani telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam yaitu memiliki sifat Shiddiq yang berarti menjunjung tinggi kebenaran, Amanah yang berarti dapat dipercaya, Tabligh yang bermakna menyampaikan kebenaran, dan Fathonah yang berarti cerdas.

Datuk/Datin, Encik/Tuan dan Puan undangan yang berbahagia.

Kepemimpinan menjadi variabel terpenting dalam menjaga stabilitas suatu negara, baik secara makro maupun mikro. Kepemimpinan menjadi tolok ukur berhasil atau tidaknya proses berkomunitas atau bernegara, baik dalam negara yang menganut sistem demokrasi, monarki, maupun negara-negara yang bersistem lain. Jika kita membuka kembali sejarah bangsa-bangsa besar yang berperadaban tinggi, pasti akan kita temukan di dalamnya seorang figur pemimpin yang hebat, visioner serta kharismatik. Misalnya saja pada zaman Romawi, kita mengenal Julius Caesar yang agung dan bijak dalam memimpin Romawi hingga mencapai puncak kejayaannya; begitu juga yang terjadi di Kerajaan Turki yang dipimpin Sultan Shalahudin Al-Ayyubi.

Lihat Juga

Pak UU dan Ingatan Budi

Senang hati karena bertemu Pak UU Hamidy masih terasa sampai pagi ini. Ia datang dalam ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!