Beranda / Kabar / Bahas Pengembangan Candi Muara Takus, LAMR Tekankan Pelibatan Masyarakat dan Kesejahteraan Warga
Ketum DPH LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil

Bahas Pengembangan Candi Muara Takus, LAMR Tekankan Pelibatan Masyarakat dan Kesejahteraan Warga

lamriau.id-Pekanbaru, Pengembangan kawasan Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, tak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik. Pelestarian ke situs bersejarah itu juga harus melibatkan masyarakat sekitar, menghidupkan kesenian lokal, serta memberi dampak nyata bagi kesejahteraan warga.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, dalam rapat daring bersama Badan Pelestarian Kebudayaan Riau, Sabtu (24/10/2026).

Rapat tersebut dipimpin Kepala Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Jumiadi, dengan menghadirkan Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Cecep Eka Permana, sebagai pembicara.

Sejumlah perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan dari Bengkulu, Jambi, serta wilayah lain di Sumatera turut mengikuti pembahasan.

Dari LAMR Riau, hadir Ketua DPH Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Bendahara Umum DPH Datuk Fadli, serta pengurus LAMR lainnya, Datuk Syaiful Anuar.

Datuk Seri Taufik mengatakan, pembicaraan mengenai pengembangan Candi Muara Takus harus mencakup berbagai aspek. Selain menjaga dan mengembangkan kawasan candi secara fisik, perhatian juga perlu diberikan kepada kesenian, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat di kampung-kampung sekitarnya.

Menurut Datuk Seri Taufik, masyarakat setempat tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam pengembangan objek budaya. Mereka harus diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengembangkan potensi lokal, serta terlibat bersama pemerintah dalam menjaga dan memajukan kawasan tersebut.

“Puncak dari pengembangan satu objek budaya itu bagaimanapun adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” demikian dikatakan Datuk Seri Taufik dalam pembahasan tersebut.

Ia juga menilai pengalaman pengembangan kawasan Candi Muara Jambi dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah daerah dalam merancang pengembangan Muara Takus. Pengalaman tersebut dapat dipelajari dan disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, serta aspirasi masyarakat setempat.

Datuk Seri Taufik menyebutkan, Muara Takus memiliki sejumlah kelebihan, mulai dari nilai sejarah dan keunikan bangunan hingga bentang alam yang indah. Kawasan ini juga memiliki keterkaitan dengan situs-situs bersejarah lain di Sumatera, sehingga pengembangannya perlu dilihat dalam konteks sejarah dan kebudayaan yang lebih luas.

Datuk Seri Taufik mengingatkan bahwa pengembangan kawasan cagar budaya membutuhkan proses, perencanaan, dan kerja sama berbagai pihak. Pelestarian harus berjalan beriringan dengan upaya membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama kawasan bersejarah tersebut.

Datuk Seri Taufik turut menyinggung bahwa pada 2009, Candi Muara Takus telah masuk dalam daftar tentatif atau tentative list warisan budaya yang dapat diajukan ke UNESCO. Menurutnya, keunikan bangunan dan keterkaitannya dengan sejarah peradaban Melayu di Sumatera menjadi modal penting yang perlu terus diteliti dan diperkuat.

Dengan demikian, pengembangan Candi Muara Takus diharapkan tidak berhenti pada pemeliharaan bangunan bersejarah. Lebih dari itu, kawasan tersebut dapat berkembang sebagai pusat pelestarian budaya, ruang pembelajaran sejarah, sekaligus sumber kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya.

Bagikan

Lihat Juga

Fadli Zon Gagas Museum Perminyakan di Riau, Guru Besar UIR: Harus Interaktif dan Bikin Generasi Muda Ketagihan

lamriau.id-Pekanbaru, Gagasan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, untuk menghadirkan museum perminyakan di Riau mendapat ...