lamriau.id-Pekanbaru, Gagasan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, untuk menulis ulang sejarah Melayu Riau serta membangun dan merevitalisasi museum mendapat perhatian kalangan akademisi. Langkah tersebut dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat identitas, pengetahuan, dan peradaban Melayu.
Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak), Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., Ph.D., menilai penulisan ulang sejarah Melayu Riau harus dilakukan secara ilmiah dengan bertumpu pada sumber-sumber autentik dan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Prof Junaidi, sejarah Melayu Riau tidak cukup hanya disusun berdasarkan narasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian perlu mengacu pada manuskrip, tradisi lisan, bukti arkeologis, serta berbagai sumber sejarah lainnya.
Upaya tersebut penting agar penulisan sejarah mampu menghadirkan pemahaman yang lebih utuh mengenai perjalanan masyarakat Melayu Riau, termasuk perkembangan kerajaan, kebudayaan, dan peradabannya.
Prof Junaidi juga menekankan bahwa sejarah Melayu Riau harus ditempatkan dalam konteks peradaban Melayu yang lebih luas. Hal ini mencakup hubungan antarkerajaan, jalur perdagangan, perkembangan Islam, bahasa, adat istiadat, serta interaksi dengan berbagai kebudayaan lain.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah Melayu Riau diharapkan tidak hanya merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga menjelaskan peran dan kontribusi masyarakat Melayu dalam perkembangan peradaban di kawasan Nusantara.
Selain penulisan sejarah, Junaidi menilai revitalisasi museum perlu menjadi perhatian serius. Menurutnya, pembenahan museum tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik gedung ataupun penataan koleksi.
Museum harus dikembangkan sebagai pusat pengetahuan, penelitian, pendidikan, dan pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Prof Junaidi, menilai museum modern perlu menyajikan sejarah dengan cara yang menarik, kritis, dan mudah diakses masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendekatkan koleksi dan informasi sejarah kepada generasi muda.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap harus berjalan seiring dengan akurasi informasi dan tanggung jawab dalam menyampaikan sejarah.
Prof Junaidi juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam proses penulisan sejarah maupun revitalisasi museum. Pemerintah perlu melibatkan perguruan tinggi, sejarawan, arkeolog, budayawan, lembaga adat, komunitas, dan masyarakat luas dalam setiap tahapan perumusan kebijakan.
Menurut Prof Junaidi, pelibatan publik bukan sekadar formalitas, melainkan syarat penting agar kebijakan kebudayaan benar-benar mencerminkan ingatan kolektif, pengalaman, dan kebutuhan masyarakat Melayu Riau.
Melalui langkah tersebut, gagasan penulisan ulang sejarah dan revitalisasi museum diharapkan tidak hanya menghasilkan dokumen sejarah maupun bangunan fisik, tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat terhadap akar budaya dan identitas Melayu.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari pewarisan peradaban kepada generasi mendatang agar sejarah Melayu Riau tetap hidup, dipelajari, dan dipahami dalam perkembangan zaman.
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau