lamriau.id-Jakarta, Setelah bertahun-tahun diperjuangkan, masyarakat Betawi akhirnya memiliki satu rumah besar untuk berhimpun. Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke dikukuhkan sebagai Ketua Lembaga Adat Kebudayaan Betawi (LAKB) oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pengukuhan tersebut bukan sekadar pergantian atau pengisian jabatan organisasi. Bagi masyarakat Betawi, lahirnya LAKB menjadi momentum untuk menyatukan berbagai unsur organisasi kebetawian dalam satu wadah adat dan kebudayaan.
Ketua Umum Bamus Betawi Riano P Ahmad mengatakan, terbentuknya LAKB merupakan babak baru dalam perjalanan masyarakat Betawi menjaga identitas, adat, dan kebudayaan di Jakarta.
“Kami masyarakat Betawi menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Gubernur Pramono Anung. LAKB ini merupakan implementasi dari amanah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024,” ujar Riano dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Riano berharap LAKB tidak berhenti sebagai lembaga formal. Ia ingin lembaga tersebut benar-benar menjadi wadah tunggal sekaligus lembaga induk bagi organisasi-organisasi kebetawian di Jakarta.
Karena itu, ia mengajak keluarga besar Bamus Betawi untuk berhimpun ke dalam LAKB dan meninggalkan pola organisasi yang berjalan sendiri-sendiri.
“Mari orang-orang Bamus Betawi berhimpun ke LAKB. Tidak boleh lagi ada sana-sini. Kita harus tertib dalam berorganisasi,” tegasnya.
Menurut Riano, penyatuan tersebut penting agar kekuatan masyarakat Betawi tidak terpecah. Berbagai organisasi dan kelompok yang selama ini bergerak di bidang kebetawian diharapkan dapat duduk dalam satu kelembagaan yang lebih solid.
“Jadi ini akan menjadi satu wadah tunggal organisasi kebetawian. Lembaga induk satu-satunya,” katanya.
Bagi Riano, pengukuhan LAKB sekaligus menjadi jawaban atas perjuangan panjang yang telah dilalui untuk menghadirkan lembaga adat dan kebudayaan tersebut.
Ia menyebut proses pembentukan LAKB tidak berlangsung sebentar. Karena itu, pengukuhan kali ini menjadi momentum yang patut disyukuri.
“Alhamdulillah, akhirnya LAKB ini dikukuhkan. Apalagi perjuangan LAKB ini relatif cukup lama, baru terbentuk sekarang,” ujarnya.
Sosok Foke yang dipercaya memimpin LAKB juga membawa simbol tersendiri. Pernah memimpin Jakarta sebagai gubernur, kini ia kembali mengambil peran di tengah masyarakat Betawi, kali ini melalui lembaga yang diarahkan menjadi rumah besar adat dan kebudayaan Betawi.
Dalam pengukuhan tersebut, Foke juga dianugerahi gelar kehormatan Dato Mualim.
Kini, tantangan LAKB bukan lagi sekadar membentuk kepengurusan. Tantangan berikutnya adalah memastikan rumah besar Betawi itu benar-benar mampu merangkul seluruh unsur masyarakat Betawi.
Di tengah Jakarta yang terus berubah, LAKB diharapkan menjadi ruang untuk menjaga warisan leluhur tanpa membuat kebudayaan Betawi terputus dari zaman.
Bagi masyarakat Betawi, pengukuhan ini menjadi awal dari pekerjaan yang jauh lebih besar: menyatukan yang tercerai, merawat adat yang diwariskan leluhur, dan memastikan identitas Betawi tetap memiliki tempat di Jakarta. (*)
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau