lamriau.id-Pekanbaru, Peluncuran buku autobiografi Brigjen TNI (Purn) H. Saleh Djasit berjudul Jalan Hidup Anak Pujud tak hanya menghadirkan kisah perjalanan hidup, tetapi juga menghadirkan kenangan dan kesan mendalam dari para tokoh Riau terhadap sosoknya.
Di balik halaman-halaman buku tersebut, terselip cerita tentang seorang pemimpin yang dikenang bukan semata karena jabatan, melainkan karena sikap dan keteladanannya.

Almarhum Dr. drh. H. Chaidir, MM, misalnya, menggambarkan Saleh Djasit sebagai sosok yang rendah hati, sebuah karakter yang menurutnya melekat secara alami, tanpa dibuat-buat.
“Kerendahan hati itu sudah terpatri dalam setiap tarikan napas beliau,” demikian testimoni yang ditinggalkannya.
Bagi banyak orang, kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan Saleh Djasit dalam memimpin, membuatnya dekat dengan berbagai kalangan.
Sementara itu, Prof. Dr. Muchtar Ahmad, M.Sc. melihat sisi lain dari kepemimpinan tersebut, yakni komitmen terhadap peran kaum intelektual dalam membangun daerah.
Ia mengingatkan bahwa Riau lahir dari gagasan para intelektual, sebuah pesan yang juga pernah ia titipkan kepada Saleh Djasit dalam perjalanan kepemimpinannya. Pesan itu kemudian menjelma menjadi arah pembangunan yang tidak lepas dari peran pemikiran dan keilmuan.
Di mata tokoh adat, Datuk Seri Raja Marjohan Yusuf, Saleh Djasit bukan sekadar pemimpin, melainkan figur yang meletakkan dasar bagi pembangunan di Bumi Lancang Kuning.
Pandangan serupa juga mencerminkan harapan agar sosok tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan Riau ke depan.
Sementara itu, Dr. Saidul Amin, MA melihat kepemimpinan Saleh Djasit sebagai perpaduan antara nilai keislaman dan kearifan lokal Melayu.
Baginya, ada panggilan moral yang mendorong lahirnya gagasan membangun peradaban Melayu yang berakar pada nilai-nilai tersebut.
Kumpulan testimoni ini menjadikan Jalan Hidup Anak Pujud tidak hanya sebagai catatan perjalanan hidup, tetapi juga sebagai potret kemanusiaan seorang pemimpin.
Sosok yang lebih banyak dikenang karena sikapnya yang sederhana, kedekatannya dengan masyarakat, serta jejak nilai yang ditinggalkannya bagi generasi berikutnya.
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau