lamriau.id-Pekanbaru, Kelak, ketika kendaraan melintas di gerbang tol yang menghubungkan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai dengan Jalan Tol Pekanbaru-Bangkinang, nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah akan menyambut para pengguna jalan.
Nama itu bukan sekadar penanda sebuah gerbang tol. Ada sejarah panjang di baliknya. Ada jejak seorang sultan yang meletakkan fondasi lahirnya Kota Pekanbaru, yang dahulu dikenal sebagai kawasan Senapelan.
Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengusulkan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, yang dikenal sebagai Marhum Pekan, untuk diabadikan pada gerbang tol tersebut. Usulan itu kini telah mendapat persetujuan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, pemberian nama tokoh pendiri kota tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan sejarah bagi generasi hari ini.
Hal itu disampaikannya usai meninjau pembangunan Jalan Kabun di Kelurahan Tuah Madani, Kecamatan Tuah Madani, Senin (2/11/2026).
Bagi Agung, pembangunan kota bukan semata-mata tentang jalan yang semakin panjang, jembatan yang semakin kokoh, atau gerbang tol yang semakin megah. Ada sesuatu yang juga harus diwariskan, yakni ingatan tentang orang-orang yang berjasa membangun daerah.
“Sehingga, generasi mendatang tetap mengenal sosok yang memiliki peran penting dalam berdirinya Pekanbaru,” ujarnya.
Ia berharap penamaan tersebut menjadi warisan atau legacy Pemko Pekanbaru bagi masyarakat. Sebuah cara sederhana agar nama pendiri kota tidak tenggelam di tengah pesatnya pembangunan zaman.
Sebelumnya, pada April 2026, Agung telah mengusulkan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah untuk gerbang tol tersebut. Usulan itu mendapat dukungan kalangan lembaga adat karena dinilai penting dalam menjaga identitas sejarah dan budaya Melayu di Pekanbaru.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Seksi 2.7 Ruas Kota Pekanbaru pada Kementerian PU, Eva Monalisa Tambunan, menjelaskan bahwa jalan tol dalam Kota Pekanbaru memiliki panjang sekitar 13,5 kilometer. Jalur tersebut menghubungkan Gerbang Tol Dumai-Pekanbaru dengan ruas Pekanbaru-Kampar.
Di balik pembangunan jalan bebas hambatan itu, tersimpan harapan agar kemajuan kota tidak membuat masyarakat kehilangan akar sejarahnya.
Marhum Pekan sendiri merupakan tokoh Kesultanan Siak yang memiliki peran penting dalam mengembangkan Senapelan menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Dari kawasan itulah Pekanbaru kemudian tumbuh menjadi ibu kota Provinsi Riau.
Kini, berabad-abad setelah jejak sejarah itu dimulai, namanya kembali diusulkan hadir di tengah denyut kehidupan kota modern.
Sebab, sebuah kota tidak hanya dibangun dengan beton, aspal, dan besi. Kota juga dibangun oleh sejarah, jasa, serta ingatan terhadap para pendahulunya.
Dan mungkin, kelak seorang anak yang melintas bersama orang tuanya akan bertanya, siapa Marhum Pekan yang namanya terpampang di gerbang tol itu? Dari sebuah pertanyaan sederhana itulah sejarah bisa kembali hidup.
Jejak Marhum Pekan
Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, yang dikenal dengan julukan Marhum Pekan, merupakan Sultan Siak Sri Indrapura ke-5 yang dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah berdirinya Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau.
Memiliki nama kecil Tengku Muhammad Ali, beliau merupakan putra Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. Ia meneruskan kepemimpinan ayahandanya sebagai Sultan Siak sekitar 1766 atau 1780–1782, sebagaimana tercatat dalam sejumlah sumber sejarah.
Salah satu jasa besarnya adalah memindahkan dan mengembangkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak ke kawasan Senapelan. Di bawah kepemimpinannya, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan yang kemudian dikenal dengan nama Pekan Baharu, cikal bakal Kota Pekanbaru saat ini.
Beliau juga berperan dalam membangun jalur perdagangan strategis yang menghubungkan wilayah pedalaman Sumatera dengan Selat Malaka.
Atas jasa dan pengabdiannya, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah kemudian dikenal dengan sebutan Marhum Pekan. Namanya diabadikan sebagai bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Riau. Salah satu bentuk penghormatan terhadap jasanya adalah penamaan Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Jembatan Siak III, menghubungkan Kecamatan Senapelan dengan Kecamatan Rumbai di Pekanbaru.
Jejak sejarahnya juga dapat ditemukan di Kompleks Makam Marhum Pekan yang berada di Jalan Senapelan, Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, bersebelahan dengan Masjid Raya Nur Alam. Kawasan tersebut menjadi salah satu situs bersejarah yang menyimpan kisah perjalanan Kesultanan Siak dan awal perkembangan Kota Pekanbaru.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa besarnya, Pemerintah Kota Pekanbaru bersama sejumlah elemen masyarakat dan lembaga adat, termasuk Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), turut mendorong pengusulan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah sebagai Pahlawan Nasional.
Namanya juga diusulkan untuk diabadikan pada sejumlah infrastruktur strategis, termasuk gerbang tol dan ruas jalan di Kota Pekanbaru.
Warisan Marhum Pekan bukan sekadar nama yang tertulis pada jembatan atau bangunan. Lebih dari itu, beliau merupakan bagian penting dari sejarah lahirnya Pekanbaru, sebuah kota yang tumbuh dari kawasan Senapelan dan kini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, serta denyut kehidupan masyarakat Provinsi Riau.
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau