Oleh: Taufik Ikram Jamil
SAMA sekali saya tak menduga diminta bicara tunggal dalam bedah buku autobiografi Brigjen (Pur) Edy Natar Nasution, “Ular Makan Linggis Menjaga Marwah di Tanah Melayu”, Ahad (27/09). Tadinya, saya mempersiapkan diri sebagai pembedah, kemudian merasa lega karena tidak ada nama saya di backdrop acara. Cuma tentu tak ada daya lain, saya tetap ke muka dengan sedikit gugup.
Seperti diketahui, bersama Datuk Seri Ulama Setia Negara Ustaz Abdul Somad, saya memberi sekapur sirih pada buku tersebut. Tulisan ini fokus pada benang hijau pada autobiografi itu sendiri yakni sekitar marwah dan keluarga. Sisi humanis dengan sendiri, tidak muncul pada sekapur sirih tersebut, karena saya merasa berhadapan dengan buku – bukan orang.
Ketika harus berbicara di depan bedah buku, tentu tidak cukup dengan apa yang saya tulis, karena dalam keadaan bersamaan, saya berhadapan dengan subjeknya. Ada Datuk Jenderal, demikian selalu saya sapa, keluarga, kaum kerabat, dan sahabat-sahabatnya. Saya memang harus menyentuh personil dengan resiko berkomunikasi langsung.
Tata Letak & layout: Rafqi Ismail
Silahkan baca selengkapnya di bawah ini:
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau