Beranda / Kabar / Di Balik Gemerlap Songket, Ada Perempuan yang Menjaga Warisan Melayu

Di Balik Gemerlap Songket, Ada Perempuan yang Menjaga Warisan Melayu

lamriau.id-Pekanbaru, Di balik gemerlap benang emas dan rumitnya motif tenun songket Melayu Riau, ada tangan-tangan perempuan yang tak kenal lelah menjaga warisan budaya. Bagi mereka, menenun bukan sekadar menghasilkan selembar kain, tetapi bagian dari kehidupan, sumber penghasilan keluarga, sekaligus cara mempertahankan identitas Melayu.

Gambaran itu terungkap dalam kajian “Perempuan dan Pemajuan Kebudayaan Tenun Songket: Kajian Multiperspektif di Daerah 3T dan Pusat Kebudayaan Melayu Riau” yang dilakukan Muhammad Luthfi Iznillah. Kajian tersebut berlangsung di Bengkalis, Siak dan Pekanbaru dengan melibatkan 34 informan dari komunitas penenun, pelaku usaha hingga kelembagaan budaya.

Kajian ini merupakan bagian dari dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesiana kategori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB), dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025.

Muhammad Luthfi Iznillah kepada Riau Pos, Kamis (20/8), mengatakan perjalanan tradisi menenun tidak selalu mudah. Regenerasi menjadi salah satu tantangan karena minat generasi muda terhadap keterampilan menenun masih terbatas, sementara produk tekstil modern terus berkembang dan bersaing di pasar.

“Bagi perempuan penenun, menenun itu bagian dari kehidupan sehari-hari, sumber penghasilan keluarga sekaligus cara mempertahankan identitas Melayu,” ujarnya.

Persoalan lainnya adalah belum semua penenun memahami secara utuh filosofi yang terkandung dalam setiap motif songket. Meski demikian, tradisi tersebut terus bergerak mengikuti perubahan zaman melalui inovasi motif, warna, desain hingga pemanfaatan songket dalam berbagai kebutuhan masyarakat.

Di tengah proses produksi itu, posisi ekonomi perempuan penenun juga menjadi perhatian. Perempuan memiliki peran besar dalam menghasilkan songket, namun akses terhadap pemasaran, penentuan harga, branding dan pengembangan usaha masih perlu diperkuat.

Karena itu, menurut Luthfi, menjaga keberlanjutan songket tidak cukup hanya dengan mempertahankan kain dan motifnya. Perempuan penenun harus ditempatkan sebagai pelaku utama pemajuan kebudayaan sekaligus diberikan ruang lebih besar untuk berkembang secara ekonomi.

Penguatan akses pasar, dokumentasi pengetahuan budaya, pemahaman filosofi motif, pengembangan produk dan pelibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk memastikan tradisi tersebut tidak berhenti di satu generasi.

Sebab, menjaga songket sejatinya bukan hanya menjaga selembar kain. Di dalamnya ada pengetahuan, keterampilan, penghidupan dan nilai-nilai Melayu yang selama ini diwariskan melalui tangan perempuan penenun.
Dengan memperkuat perempuan sebagai penjaga sekaligus penggerak budaya, tenun songket Melayu Riau diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang dan menemukan tempat di tengah perubahan zaman.

sumber: riaupos.co

Bagikan

Lihat Juga

Kitab Al Qawa’id Bukti Kebesaran Kerajaan Siak, Penentu Sejarah Bangsa

lamriau.id-Siak, Kitab Bab Al Qawa’id merupakan bukti kebesaran Kesultanan Siak Sri Indrapura sekaligus penanda bahwa ...