Beranda / Syahdan / Catatan Al azhar: Usah Pulang

Catatan Al azhar: Usah Pulang

Caption: (Ilustrasi: Junaidi Syam)

 

Lai rencana ziarah kubuo subolum Ramadhan ko, Mamak? Subonanyo borek nak munyobuiknyo… topi untuk awak busamu, bialah kumoti-moti; dalam kuadaan kinin ko, usahlah Mamak pulang dolu le. Sodih kaminyo, Mamak. Cumu, sojak musim wabah ko, kami anak-kumunakan Mamak di kampong ko, ino pakai tiduo do, mungawal kampong awak ko mak totop bosih.”  – Ada rencana berziarah kubur sebelum Ramadhan ini, Mamak? Sebenarnya berat hendak menyebutkannya… tapi untuk (kebaikan) kita bersama, biarlah kukuatkan hati; dalam keadaan kini ini, usahlah Mamak pulang dulu lagi. Sedih kami sebenarnya, Mamak. Cuma, sejak musim wabah ini, kami, anak-kemenakan Mamak di kampung ini, tidak tidur-tidur, mengawal kampung kita ini agar tetap bersih (dari wabah).”

Pesan Whatsapp itu saya terima jelang subuh (Sabtu, 11/4/2020); dari salah seorang kemenakan saya di sebuah kampung di Tambusai, Rokan Hulu. Sebagai kemenakan (ibunya sepupu saya), dia tahu betul bahwa dalam keadaan normal, pesan kemenakan (juga: seorang anak) kepada Mamaknya yang seperti itu adalah penyimpangan dari alur-patut adat. Alur-patut adat bilateral yang dianut lima suku Sibah Dalam (kerabat istana; kelompok lainnya: Sibah Luar yang menganut kekerabatan garis ibu atau matrilineal) di bekas Kerajaan Tambusai tegas mengatur bahwa anak dan kemenakan dengan Bapak dan Mamaknya berada dalam relasi-relasi perlindungan timbal-balik (resiprokal) yang nyaris tak bisa dibedakan. Bapak memberi perlindungan prospektif, dalam bentuk bekal-bekal (tunjuk-ajar) untuk kebaikan hidup anak (-anaknya) di masa depan; dan kewajiban adat yang sama melekat pada dirinya untuk kemenakannya (anak-anak dari saudara-saudara perempuannya). Sedangkan anak dan kemenakan sama-sama menjadi ‘pelapis-dada’ Bapak atau Mamaknya; aib Bapak atau Mamak adalah aib anak atau kemenakan, dan atas nama kewajiban, anak maupun kemenakan sama-sama (harus) siap mempertaruhkan nyawa untuk menutup aib Bapak atau Mamaknya itu. Perbedaan antara anak dengan kemenakan, dalam adat Sibah Dalam, baru terlihat dalam hal hak: warisan material, misalnya.

Jelang azan subuh Sabtu, sebagai Mamak saya menerima pesan yang sungguh menyimpang dari alur-patut adat kami: bunyinya mendekati pengertian ‘kurang-ajar’. Akan tetapi, simaklah: nada berat hatinya menyampaikan pesan itu (moti-moti adalah ekspresi masyarakat adat Lima Luhak di Rokan untuk hal yang sangat-sangat enggan dia lakukan); pernyataan kesedihan hatinya (saya percaya pada bayangan yang melintas di benak saya, bahwa dia – kemenakan saya itu – bercucur air mata ketika menulis pesan itu); dan sebagainya yang hampir seluruhnya bersuasana amat sendu. Dia tahu betapa saya selalu ingin pulang, menziarahi kubur Omak dan Abah dan kaum kerabat yang sudah wafat, menziarahi saudara-mara serta kampung halaman dan sekalian isinya, lebih-lebih menjelang Ramadhan bulan penuh berkah atau awal Syawal yang fitri. Jelang Ramadhan, waktu bermaaf-maafan dengan wajah basah oleh air mata yang – dalam warisan tafsir kampung saya –  akan hanyut bersama wangi air limau bekas pembasuh ubun-ubun di petang belimau. Awal Syawal, hari-hari ketika air mata mengantarkan suara syahdu takbir memuji Sang Maha Pencipta, penuh harap beroleh kemenangan…

Usah pulang dulu, kata kemenakan saya (mungkin juga: kata akal semua kita). Ya, kata akal: wabah mengancam kita. Kata akal: wabah itu akan berhenti bila kita disiplin berjarak dzahir (physical distancing), dan disiplin pula meningkatkan kebersihan dan ketahanan diri. Kata akal: wabah laknat itu masih terus menyebar melalui mobilitas orang-orang. Sekarang, saat catatan ini ditulis, sebagian besar kampung kita di pelosok sana, Alhamdulillah, masih bersih; karena doa kita semua, karena ikhtiar anak-kemenakan dan saudara-mara kita di sana. Kita sepakat, semua kampong awak tetap bersih. Sungguh masuk akal, menyentuh hati, dan membanggakan: anak-kemenakan kita mengambil prakarsa, melakukan penyimpangan adat, melarang kita pulang. Sementara #BerjarakZahirBersatuBatin. Itulah kata akalbudinya.

Lihat Juga

Al azhar: Selamat Jalan, Pak Jek!

  Innalillahi wainnailaihi rojiun. Riau kembali kehilangan tokohnya. Mantan Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!